07 Mei, 2011

Sebagian Warga Asal Sidrap merupakan Akademisi di Berbagai PTN/PTS

Teliti Wahdah, Dosen Unifa Gelar Doktor Bidang Sosial

Sebagian Warga Asal Sidrap merupakan Akademisi di Berbagai PTN/PTS dimana bisa dikatakan berkat desertasi seorang yang telah menyelesaikan program doktoralnya Setelah sebelumnya Mahasiswa Pascasarjana UNM (Universitas Negeri Makassar) dan UIN (Universsitas Islam Negeri) Makassar menyelesaikan program doktoralnya dengan obyek penelitian Wahdah, kini giliran Dr.H.Hadiati, M.Si Dosen Kopertis Universitas Fajar (Unifa) menyelesaikan Program Doktoralnya bidang Sosial pada Pascasarjana Fisip Unhas Program Studi Ilmu Sosiologi.

Desertasi istri dari Dekan FBS UNM Dr.H. Mansur Akil, M.Pd ini mengangkat judul tentang Komunikasi Dakwah dan Dinamika Kelompok Wahdah Islamiyah di Sulawesi Selatan. (The Preaching Communication and Group Dynamics of Wahdah Islamiyah in South Sulawesi). Dipaparkan dalam Ujian Promosi, Selasa 4 Januari 2011 di gedung PKP Unhas.
Bertindak Sebagai Promotor adalah Prof.Dr.H.Hafied Cangara, M.Sc, Kopromotor oleh Prof Dr.HM.Tahir Kasnawi, SU dan Prof.Dr.H.Ahmad M.Sewang, MA. Tim Penguji: Prof.Dr.Andi Alimuddin Unde, M.Si, Prof.Dr. Darmawan Salman, MS, Prof Dr.H.Abu Hamid, dan Prof.Dr.Abdul Salam, M.Si
Dalam awal presentasenya, Peneliti mengungkapkan bahwa latar belakang Dertasinya ini, bahwa era modern saat ini, memberikan dampak positif dan negatif. Dampat negatif yang terlihat adalah nilai agama termarginalkan dengan paham sekulerisasi yang berujung pada dekadensi moral. Dengan adanya fenomena ini, Wahdah Islamiyah sebagai salah satu organisasi agama berupaya untuk mengembalikan nilai agama ke tengah masyarakat.

Menurutnya, dalam perkembangan dakwahnya, WI tidak serta merta diterima di masyarakat, ada kendala sosial budaya ,politis yang senantiasa menghambat dan mengancam eksistensi dakwah, akan tetapi melihat kondisi ini , WI mengalami perkembangan yang pesat sebagai ormas Islam yang muncul di luar Jawa, bahkan bisa bersaing dengan ormas lainnya di Indonesia.
Peneliti mengungkapkan bahwa eksistensi ini sangat didukung dengan kekuatan internal dalam wujud Strategi Komunkasi Dakwah, Jaringan komunikasi Dakwah, dan Dinamika Kelompok

Dalam sesi pertanyaan, banyak hal menarik yang dimunculkan para panelis, diantaranya tentang perubahan pola pendekatan dakwah dari komprontatif ke persuasif, konsep kepemimpinan di Wahdah sampai wacana Wahdah akan jadi partai politik ditanyakan ke Peneliti.

Prof Dr.HM.Tahir Kasnawi, SU yang memberikan tanggapan awal, mengomentari tentang perubahan dakwah WI dari Komprontatif menjadi persuasif seperti yang tertulis di desertasi, Prof menanyakan sejak kapan perubahan ini terjadi. Peneliti dalam jawabannya mengutarakan bahwa masa komprontatif ini dilakukan pada awal-awal dari para pemuda penggiat dakwah saat itu,sehingga banyak pihak yang mengangap ekstrim WI waktu itu,pada saat masih berbentuk Yayasan Fathul Muin.

Sebelum melanjutkan komentarnya yang kedua, Prof Tahir dalam hal ini sempat mengistilahkan Wahdah saat ini sudah “Ramah Lingkungan” dan “lagi mesra-mesranya” dengan aktifitas dalam bidang sosial dan pendidikan.

Tanggapan kedua Prof . Tahir kepada peneliti, tentang adanya wacana Wahdah akan menjadi Partai Politik agar misi dakwah lebih kuat. Prof menanyakan apakah wacana ini akan mendukung aktivitas WI atau sebaliknya akan melemahkan.

Dalam jawabannya, peneliti berpendapat bahwa kalau WI jadi Parpol justru akan melemahkan visi misi WI, karena akan ada keberpihakan pada suatu kelompok . pernyataan ini langsung dipotong Prof.Tahir, “kalau berpihak kepada kepentingan ummat, why not?” sehingga bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah. Menjawab, yang terakhir ini, peneliti menegaskan bahwa kalau untuk mempengaruhi kebijakan tidak mesti jadi parpol, tapi bisa memberikan konstribusi pemikiran-pemikiran yang positif kepada yang berwenang . “ saya khawatir ada kepentingan politis yang sifatnya tidak berpihak kepada masyarakat, yang pada akhirnya melenceng dari tujuan awal Wahdah Islamiyah,”tegasnya.

Hal menarik lainnya yang ditanyakan oleh Prof.Dr.Andi Alimuddin Unde, M.Si, tentang kepemimpinan di Wahdah Islamiyah, yakni pemimpin puncak tidak diganti kecuali meninggal atau udzur. Prof Alimuddin, menanyakan dalam kaitannya dengan kondisi alam demokrasi saat ini, apakah hal ini bisa bertahan jika diperhadapkan dengan kondisi keterbukaan.

Dalam jawabannya, peneliti mengemukakan bahwa berdasarkan hasil wawancara, di Wahdah ada dua sistem kepemimipinan yang diterapkan yakni sistem khilafah dan kepemimpinan modern. Kepemimpinan pertama diterapkan pada tataran pimpinan puncak di pusat. Menurutnya , jika konsisiten, kepemimpinan ini tidak akan tergoyahkan karena sendi-sendi yang digunakan terikat pada norma agama. “Walaupun demikian Wahdah tidak melupakan sistem regenerasi, manusia itu ada akhirnya, sehingga Wahdah Islamiyah akan tetap eksis,” paparnya. Ketetapan seperti ini tidak diatur secara tertulis namun diterima secara konvensi oleh semua unsur kelompok.

Pada desertasinya, kepemimpinan modern dilihat pada mekanisme pemilihan pimpinan dan Sub Struktur lainnya yang diatur berdasarkan AD/ART. Kepemimipnan ini bersifat kolektif melalui musyawarah dalam membuat keputusan dan kebijakan organisasi.

Pada kesempatan tersebut, peneliti juga mengemukakan tentang dampak sekularisme, bahwa realita sosial yang jauh dari nilai agama. “kadang kita asing dengan budaya Islam tapi tidak asing dengan budaya Barat, yang memisahkan nilai agama di Masyarakat,” tuturnya. Melihat hal ini WI, tidak diam, akan tetapi melakukan pembinaan Aqidah, dan mulai dari hal-hal kecil, sebagai upaya menentang proses sekularisme.

Obyek yang diteliti Dr.Hadiati meliputi empat hal, Pertama, Strategi Komunikasi Dakwah, dalam hal ini Komunikator dakwah (Dai-Daiyah), Pesan Dakwah yang disampaikan, media dan pendekatan dakwah serta sasaran dakwah.

Kedua, tentang jaringan Komunikasi Dakwah, meliputi Jaringan Makro atau eksternal dan jaringan mikro.

Ketiga, tentang Dinamika kelompok, meliputi motivasi berkelompok, hubungan interpersonal antar anggota kelompok, Komunkasi Internal Organisasi, Mekanisme Kepemimpinan dan gerakan-gerakan sosial Wahdah Islamiyah.

Keempat, tentang Implikasi Komunikasi Dakwah dan Dinamika kelompok terhadap eksistensi Wahdah Islamiyah, berisi penelusuran sejarah perkembangan dan persepsi tokoh-tokoh masyarakat terhadap keberadaan Wahdah Islamiyah.

Ada tiga kesimpulan yang didapatkan peneliti dalam desertasinya, yakni pertama, sebagai sebuah sistem sosial, WI telah membangun interaksi dengan lingkungannya melalui mekanisme strategi dan jaringan komunikasi.

Kedua, Wahdah Islamiyah telah membangun kondusifitas dinamika melalui peningkatan kualitas dan pelembagaan interaksi internal sistem serta penerapan norma-norma dalam struktur dan mekanisme sistem.

Ketiga, Wahdah Islamiyah dapat memperkuat eksistensinya, karena didukung oleh kondusifitas dinamika internal sistem dan kemampuannya berinteraksi dengan lingkungan melalui mekanisme strategi dan jaringan komunikasi yang kuat.AM

06 Mei, 2011

Pimpin Kepala Kantor Urusan Agama Kab.Sinjai


Selamat...........!!!!
Keluarga Besar IKM SIDRAP mengucapkan atas jabatan baru bapak H.Mudarak Dahlan SH,MH sbagai kepala Kantor Urusan Agama Kab. Sinjai.....!!!!!!!
IKM-Sidrap.AM

05 April, 2011

Siswa Jangan Depresi Hadapi UN


Crew IKM_Sidrap. Dinas Pendidikan (Disdik) mengingatkan kepada sekolah yang ada di Sidrap, untuk melakukan berbagai upaya pada siswanya guna menghindari depresi mental sebelum UN 2011 berlangsung, melalui motivasi dan keyakinan diri.
Kepala Disdik Sidrap, Drs H Syahruddin HT EDm melalui Kabid Dikdas, Drs Mikhdar Mahmuddin MPd di kantornya kemarin mengatakan, persoalan mental menghadapi ujian nasional (UN) yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini, membutuhkan persiapan oleh siswa utamanya persiapan mental," katanya. "Persiapan mental merupakan persoalan mendasar yang harus dimiliki siswa dan harus menjadi perhatian khusus bagi sekolah, sebelum UN berlangsung," kata-nya. Mikhdar menyebutkan, sejak UN diterapkan, kerap ditemukan persoalan psikologis pada siswa, dan menjadi penyebab merosotnya prestasi peserta didik saat menghadapi UN. Tak jarang, peserta UN justru menganggap UN seperti momok menakutkan dalam sistem pendidikan yang ada. Akibatnya, jelas saja berimbas pada hasil UN yang jauh berbeda dari prestasi dan kemampuan kognitif siswa di sekolah. Ia mengatakan, UN hanya sebuah metode untuk mengukur pencapaian belajar siswa selama mengenyam pendidikan di sekolah. "UN tidak ada bedanya dengan Ebtanas. Yang menjadi persoalan justru ketika siswa menganggap UN adalah beban, sehingga persiapan yang dilakukan siswa, sertamerta terpuruk ketika UN berlangsung," katanya. Ia menjelaskan, pada ujian nasional 2011 benyak perubahan mendasar pada penilaian kelulusan, diantaranya penggabungan nilai sekolah dengan nilai UN dan penentuan kelulusan yang dilakukan berdasarkan keputusan dewan guru. "Sebelum proses pernyataan kelulusan, sekolah, guru serta perserta didik harus memahami konsep kelulusan yang telah ditentukan berdasarkan Permendiknas nomor 45 tahun 2010, baik runtutan kegiatan ujian sekolah maupun teknis pelaksanaan dan penilaian UN," katanya. Ia meyakini, jika di awal pelaksanaannya, siswa telah siap mental, bisa dipastikan hal itu membantu siswa lebih teliti dan percaya diri terhadap kemampuannya, tidak mengandalkan `jimat` maupun contekan teman. Selain itu, ia menekankan kepada sekolah-sekolah di Sidrap, dengan sisa waktu yang ada itu, dimanfaatkan untuk menuntaskan target kurikulum serta mengotimalkan daya serap siswa, khususnya terhadap mata pelajaran yang diujinasionalkan. Disamping itu, peran orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak didik sangat diharapkan. Orang tua diminta untuk memperketat waktu bermain anak didik. "Jangan sampai saat UN berlangsung, banyak siswa yang tidak bisa mengikuti UN lantaran sakit dan kecelakaan, untuk itu peran orang tua cukup besar untuk mensukseskan UN tahun ini," katanya.